Selasa, 27 Maret 2018

10 Wasiat Allah kepada Nabi Musa As



Abul-Laits Assamarqandi meriwayatkan kepada sanadnya dari Jabir bin Abdillah r.a. berkata Rasulullah S.A.W bersabda : "Allah S.W.T. telah memberikan kepada Nabi Musa bin Imran a.s. dalam alwaah 10 bab :
Wahai Musa jangan menyekutukan aku dengan suatu apa pun bahwa aku telah memutuskan bahwa api neraka akan menyambar muka orang-orang musyrikin.
Taatlah kepada-Ku dan kedua orang tuamu nescaya Aku peliharamu dari sebarang bahaya dan akan Aku lanjutkan umurmu dan Aku hidupkan kamu dengan penghidupan yang baik.
Jangan sekali-kali membunuh jiwa yang Aku haramkan kecuali dengan hak nescaya akan menjadi sempit bagimu dunia yang luas dan langit dengan semua penjurunya dan akan kembali engkau dengan murka-Ku ke dalam api neraka.
Jangan sekali-kali sumpah dengan nama-Ku dalam dusta atau durhaka sebab Aku tidak akan membersihkan orang yang tidak mensucikan Aku dan tidak mengagung-agungkan nama-Ku.
Jangan hasad dengki dan irihati terhadap apa yang Aku berikan kepada orang-orang, sebab penghasut itu musuh nikmat-Ku, menolak kehendak-Ku, membenci kepada pembahagian yang Aku berikan kepada hamba-hamba-Ku dan sesiapa yang tidak meninggalkan perbuatan tersebut, maka bukan daripada-Ku.
Jangan menjadi saksi terhadap apa yang tidak engkau ketahui dengan benar-benar dan engkau ingati dengan akalmu dan perasaanmu sebab Aku menuntut saksi-saksi itu dengan teliti atas persaksian mereka.
Jangan mencuri dan jangan berzina isteri jiran tetanggamu sebab nescaya Aku tutup wajah-Ku daripadamu dan Aku tutup pintu-pintu langit daripadanya.
Jangan menyembelih korban untuk selain dari-Ku sebab Aku tidak menerima korban kecuali yang disebut nama-Ku dan ikhlas untuk-Ku.
Cintailah terhadap sesama manusia sebagaimana yang engkau suka terhadap dirimu sendiri.
Jadikan hari Sabtu itu hari untuk beribadat kepada-Ku dan hiburkan anak keluargamu. Kemudian Rasulullah S.A.W bersabda lagi : "Sesungguhnya Allah S.W.T menjadikan hari Sabtu itu hari raya untuk Nabi Musa a.s. dan Allah S.W.T memilih hari Juma'at sebagai hari raya untukku."

MACAM-MACAM HATI DAN KRITERIANYA



Hubungan hati dengan organ-organ tubuh lainnya, laksana raja yang bertahta diatas singgasana yang dikelilingi para punggawanya. Seluruh anggota punggawa bergerak atas perintahnya. Dengan kata lain, bahwa hati itu adalah pengendali dan sekaligus sebagai pemberi komando terdepan yang setiap

anggota tubuh berada di bawah kekuasaannya. Di hati inilah anggota badan lainnya mengambil keteladanannya, baik dalam ketaatan atau penyimpangan. Organ-organ tubuh lainnya selalu mengikuti dan patuh dalam setiap keputusan.

Nabi saw bersabda: "Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, apabila daging itu baik maka baiklah tubuh manusia itu, akan tetapi bila daging itu rusak maka rusak pula tubuh manusia. Ketahuilah bahwa sesungguhnya segumpal daging itu adalah hati."[HR. Bukhari-Muslim].

Pengelompokan Hati Manusia Hati manusia terbagi menjadi tiga klasifikasi: Qalbun Shahih (hati yang suci), Qalbun Mayyit (hati yang mati), dan Qalbun Maridl (hati yang sakit).

Pertama, Qalbun Shahih

yaitu hati yang sehat dan bersih (hati yang sehat) dari setiap nafsu yang menentang perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan dari setiap penyimpangan yang menyalahi keutamaan-Nya. Sehingga ia selamat dari pengabdian kepada selain Allah, dan mencari penyelesaian hukum pada selain rasul-Nya. Karenanya, hati ini murni pengabdiannya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, baik pengabdian secara iradat (kehendak), mahabbah (cinta), tawakkal

(berserah diri), takut atas siksa-Nya dan mengharapkan karunia-Nya. Bahkan seluruh aktivitasnya hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala semata. Jika mencintai maka cintanya itu karena Allah, dan jika membenci maka kebenciannya itupun karena Allah, jika memberi atau bersedekah, hal itu karena-Nya dan jika tidak memberi, juga karena Allah. Dan tidak hanya itu saja, tapi diiringi dengan kepatuhan hati dan bertahkim kepada syari'at-Nya. ia

mempunyai landasan yang kuat dan prinsip tersendiri dalam menjadikan Muhammad saw sebagai suri tauladan dalam segala hal. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mendahului Allah dan rasul-Nya, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."[QS. Al-Hujurat:1].

Ciri-ciri Qalbun Shahih

1. Apabila hati pergi meninggalkan dunia menuju dan berdomisili di alam akhirat, sehingga seakan ia termasuk penduduknya. Ia datang ke dunia fana ini bagaikan seorang asing yang kebetulan singgah sebentar sebelum meneruskan perjalanan menuju alam akhirat. Sebagaimana telah diwasiatkan Nabi saw kepada Abdullah bin Umar : "Jadikanlah dirimu di dunia ini seakan-akan kamu orang asing atau orang yang sedang menyeberangi suatu jalan." [HR.Bukhari].

2. Jika ia tertinggal wirid, atau sesuatu bentuk peribatan lainnya, maka ia merasakan sakit yang tiada terperi ,melebihi sakitnya orang yang tamak dan kikir saat kehilangan barang kesayangannya.

3. Ia senantiasa rindu untuk dapat mengabdikan diri di jalan Allah, melebihi keinginan orang yang lapar kepada makanan dan minuman. Yahya bin Mu'adz berkata: "Barangsiapa yang merasa berkhidmat kepada Allah, maka segala sesuatupun akan senang berkhidmat kepadanya, dan barang siapa tentram dan puas dengan Allah maka orang lain tentram pula ketika melihat dirinya.

4. Apabila tujuan hidupnya hanya untuk taat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

5. Bila sedang melakukan sholat, maka sirnalah semua kegundahannya dan kesusahan kaena urusan dunia. Sebab di dalam sholat telah ia temukan kenikmatan dan kesejukan jiwa yang suci.

6. Sangat menghargai waktu dan tidak menyia-nyiakanya, melebihi rasa kekhawatiran orang bakhil dalam menjaga hartanya.

7. Tidak pernah terputus dan futur (malas) untuk mengingat Allah Idan berdzikir kepada-Nya.

8. Lebih mengutamakan pada pencapaian kualitas dari suatu amal perbuatan daripada kuantitas. ia lebih condong pada keikhlasan dalam beramal, mengikuti petunjuk syari'at rasulullah saw di samping ia selalu merenungi segala bentuk karunia yang diberikan Allah kepadanya, dan mengakui tentang kelalaian dan

keteledorannya dalam memenuhi hak-hak Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Kedua, Qalbun Mayyit

Qalbun Mayyit (hati yang mati) adalah kebalikan dari hati yang sehat, hati yang mati tidak pernah mengenal Tuhannya, tidak mencintai atau ridha kepada-Nya. dan ia berdiri berdampingan dengan syahwatnya dan memperturutkan keinginan hawa nafsunya, walaupun hal ini menjadikan Allah Subhanahu wa Ta'ala marah dan murka akan perbuatannya. Ia tidak peduli lagi apakah Allah ridha atau murka terhadap apa yang dikerjakannya, sebab ia memang telah mengabdi kepada selain Allah. Jika mencintai didasarkan atas hawa nafsu, begitu pula dengan membenci, memberi. Hawa nafsu lebih didewa-dewakan daripada rasa cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Hati jenis ini adalah hati yang jika diseru kepada jalan Allah, maka seruan itu tidaklah berfaedah sedikitpun, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menutup hati mereka. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: " Dan diantara mereka ada orang yang mendengar (bacaanmu), padahal kami telah meletakkan tutup di atas hati mereka sehingga mereka tidak memahaminya) dan kami letakkan

sumbatan di telinganya dan jikalaupun mereka melihat segala tanda kebenaran mereka tetap tidak mau beriman kepadanya.

Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata: Al-Qur'an itu tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu'."[QS. Al-An'am:25].

Ayat ini menunjukkan, bahwa ada manusia yang tidak mempergunakan hatinya untuk memahami ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan tidak empergunakan telinganya untuk mendengar perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Juga tidak mau melihat kebenaran yang telah disampaikan. Seperti

difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala: "(Mereka berkata:) Hati kami tertutup dari ajakan yang kamu serukan kepada kami, dalam telinga kami ada sumbatan, dan diantara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu, sesungguhnya kami bekerja pula."[QS. Fushilat:5].

Allah Subhanahu wa Ta'ala akan membiarkan mereka dalam kegelapan dan mereka sedikitpun tidak akan mendapatkan cahaya iman. "Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya.

Allah menghilangkan cahaya (yang menyinari) mereka. Dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat, mereka tuli, bisu dan buta, maka mereka tidaklah kembali kepada jalan yang benar.” [Al-Baqarah:17-18].

Ketiga, Qalbun Maridl

Qalbun Maridl (hati yang sakit) adalah hati yang sebenarnya memiliki kehidupan, namun di dalamnya tersimpan benih-benih penyakit berupa kejahilan. Hati yang sedang di cekam sakit akan mudah menjadi parah apabila tidak diobati dengan hikmah dan maud'izah. Seperti difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala:"Agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan setan, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang

keras hatinya."[QS. Al-Hajj:53].

Karena sesungguhnya apa yang disisipkan oleh setan kedalam hati manusia itu, akan membuat sesuatu menjadi syubhat (sesuatu yang meragukan), seperti penyakit ragu dan sesat. Begitu hati menjadi lemah karena penyakit yang diidap, maka setanpun mudah merasuk kedalam hati lalu menghidupkan fitnah dalam hati tersebut. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafiq, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di madinah (dari menyakitimu) niscaya kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka. Kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar."[Al-Ahzab:60].

Namun demikian hati orang-orang yang seperti itu belumlah mati sebagaimana hati orang-orang kafir dan orang-orang munafiq, akan tetapi bukan pula hati sehat, seperti sehatnya hati orang orang yang beriman. Sebab di dalam hati mereka terdapat penyakit syubhat dan syahwat. Sebagaimana Firman Allah

Subhanahu wa Ta'ala: "Sehingga berkeinginanlah orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya."[QS. Al-Ahzab:32].

Ciri-ciri Qalbun Maridl

Boleh jadi hati manusia sedang sakit , bahkan tanpa disadari. Lebih tragis bahwa hatinya sebenarnya mati, namun si empunya tidak menyadari.

Tanda-tanda spesifik hati yang sedang sakit atau mati adalah jika ia tidak merasa sakit dan pedih oleh goresan-goresan pisau kemaksiatan, Hal itu disebabkan karena hatinya telah rancu dan teracuni, sehingga tidak dapat lagi membedakan antara nilai kebenaran dan aqidahnya yang batil. Hal ini seperti ditafsirkan oleh Mujahid dan Qatadah tentang firman Allah yang berbunyi: "Fi

Qulubihim Maradhun"[QS.Al-Baqarah:10]. artinya: "Dalam hati mereka terdapat penyakit." “Ayat ini menunjukkan adanya keraguan yang tumbuh dalam hati manusia tentang kebenaran.”

Bahkan ia melihat kebenaran bagai sesuatu yang sangat bertentangan dengan kehendaknya. Kebenaran itu dilihat dari sisi lain yang terasa merugikan dirinya. sehingga dalam kondisi seperti ini ia lebih menyukai kebatilan dan kemudharatan.

Faktor-faktor penyebab sakitnya hati

Penyebab timbulnya penyakit di hati adalah dikarenakan banyaknya fitnah yang selalu dibidikkan pada hati. Fitnah-fitnah tersebut dapat berupa: fitnah syahwat, dimana reaksinya amat keras sampai dapat merancukan niat dan iradat (kehendak) seseorang. Dan yang lain adalah fitnah syubhat (keragu-raguan)

yang menyebabkan kacaunya persepsi dan i’tiqad (keyakinan).

Racun Hati

Setiap kemaksiatan adalah racun dan yang merupakan penyakit dan perusak kesucian hati. Dan racun-racun hati yang paling banyak ditemukan dan reaksinya cukup keras bagi kelangsungan hidup hati ada empat macam yaitu:

1. Berlebihan dalam berbicara

Banyak berbicara adalah salah satu faktor yang menyebabkan hati menjadi keras, sebagaimana sabda rasulullah saw :”Janganlah memperbanyak kata (bicara) selain dzikrullah, karena banyak bicara selain dzikrullah menjadikan hati keras. Dan orang yang terjauh dari Allah adalah yang berhati keras.”[HR. Tirmidzi dari Ibnu Umar]. kemudian juga dengan banyak berbicara terkadang

membuat seseorang mengucapkan kata-kata tanpa dipikirkan dan tanpa dipertimbangkan sebelumnya, sehingga melahirkan kerugian dan penyesalan. Umar bin Kahttab ra pernah berkata: “Barang siapa yang banyak bicaranya, maka banyak kesalahannya, sehingga nerakalah sebaik-baik tempat bagi mereka.” Hal ini ditegas juga dalam sebuah hadits , bahwa rasulullah saw bersabda:“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan katakata

tanpa dipikirkan yang menyebabkan ia tergelincir kedalam neraka lebih jauh antara timur dan barat.” [muttafaq ‘alaihi, dari Abu Hurairah]

2. Berlebihan dalam memandang sesuatu

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memerintahkan kepada setiap mukmin dan mukminah untuk menundukkan pandangannya yang demikian itu lebih suci bagi hati-hati mereka. Dan juga mereka akan merasakan manisnya iman,  sebagaimana sabda rasulullah saw : “Barangsiapa yang menahan pandangannya karena Allah, maka dia akan diberikan oleh Allah rasa manisnya iman yang ia rasakan dalam hatinya, sampai dimana ia manghadap kepada-Nya.” [HR. Ahmad]. Sekarang bagaimana jika perintah itu dilanggar, maka jelas akan menyebabkan fitnah bagi hati pelakunya. yaitu, rusaknya kesucian hati itu sendiri oleh anganangan dan keindahan semu yang dibisikkan setan, lupa terhadap hal yang menjadi kemaslahatan. Lalu ia berbuat melampaui batas

sehingga hilanglah akal sehatnya dan menyebabkan ia menjadi pengabdi hawa nafsu. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:”Janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingat kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melampaui batas.”[QS. Al-Kahfi:28].

3. Berlebihan dalam makan

Sedikit makan dapat melunakkan hati, menajamkan otak,merendahkan nafsu birahi dan melemahkan nafsu amarah. Sedangkan bila banyak makan, bahkan sampai kekenyangan akan berakibat sebaliknya.

Dari Miqdam bin Ma’di Karib dia berkata, bahwa ia mendengar rasulullah saw bersabda: “Anak adam tidak memenuhi wadah yang lebih buruk, daripada ia memenuhi perutnya. Cukuplah baginya beberapa suap saja untuk menguatkan tulang rusuknya. Jika memang tidak memungkinkan, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minum, dan sepertiga untuk nafasnya.”[HR.

Ahmad dan Tirmidzi].

Alangkah banyak kemaksiatan yang tersulut akibat makan yang berlebihan dan menghalangi ketaatan manusia kepada Sang Khalik. Karenanya siapa yang mampu menjaga perutnya dari sifat serakah, maka ia benar-benar membuktikan bahwa dirinya mampu menjaga diri dari keburukan yang lebih fatal lagi.

Ibrahim bin Adham berkata:”Barangsiapa mampu mengendalikan perutnya, maka ia mampu pula mengendalikan agamanya, dan barang siapa yang mampu menguasai rasa lapar (tidak makan berlebihan) maka ia dapat menguasai akhlak-akhlak yang baik, sebab maksiat kepada Allah itu jauh dari orang-orang yang lapar (yang mampu syahwat perutnya).”

4. Berlebihan dalam bergaul

Betapa tragis suatu pergaulan yang dapat merampas kenikmatan yang telah ada, karenanya timbul benih-benih permusuhan dan kebencian yang terpendam sehingga menyesakkan rongga-rongga dada. Namun rasa itu sulit dihindari terutama oleh hati yang sudah terluka. Demikian juga berlebih-lebihan dalam pergaulan dapat mendatangkan kerugian di dunia dan akhirat. Seyogyanya bagi

seorang hamba dapat mengambil hikmah dari setiap pergaulan.usahakanlah untuk bersikap bijak dan dapat menempatkan diri dalam menghadapi berbagai karakter teman sepergaulan. Dimana karakter-karakter tersebut ada empat golongan:

- Terhadap orang yang jika kita membutuhkan bergaul dengannya, laksana kebutuhan kita terhadap makanan, kita tidak dapat lepas darinya dalam sehari semalam. Mereka itu adalah Para Ulama yang memiliki cakrawala pengetahuan yang luas tentang ilmu Agama, mengetaui tipu daya setan dan segala macam bentuk penyakit hati.

- Terhadap orang yang jika kita bergaul dengannya seperti kebutuhan kita akan obat, Kita mengharapkannya dikala kita sedang sakit saja, tetapi bila badan kembali sehat maka mereka tidak kita butuhkan lagi. mereka ini adalah dari orang yang kehadirannya kita nantikan berkaitan dengan masalah kemaslahatan hidup dan kehidupan, seperti untuk saling bekerjasama atau sebagai mitra kerja dalam berniaga, bertani, bermusyawarah dan masalah-masalah lain dalam hal muamalah.

- Terhadap orang yang jika kita bergaul dengannya, tidak ubahnya seperti penyakit. Golongan ini terbagi menjadi beberapa jenis dan tingkatan, bergantung pada intesitasnya terhadap jiwa kita.

Diantara mereka adalah yang bersifat individualis dan egoistis. Jika bergaul dengannya hendaklah kita waspada dan berlaku bijak dalam menghadapinya. Hal ini bukan berarti kita harus menghindar dan tidak mau bergaul dengannya, tetapi jagalah jangan sampai diri kita terbawa oleh pengaruh kepribadiannya, karena akan merugikan kita dalam hal agama dan dunia. oleh karena itu

sebaiknya orang-orang yang masuk dalam tipe ini hendaklah dujauhi jika ingin selamat agama dan dunia kita.

- Terhadap orang yang bila kita bergaul dengannya akan membawa kefatalan, sebab ia laksana ular berbisa. Andaikan kita sampai terkena patuknya, kemudian kita berhasil menemukan penawarnya maka selamatlah kita, tetapi jika tidak, inilah bencana bagi kita.

Golongan ini banyak berkeliaran di sekitar kita. Mereka adalah Ahli bid’ah yang sesat dan menyesatkan, menyimpang dari sunnah rasulullah saw. Mereka pandai membolak-balikkan fakta, sunnah mereka jadikan bid’ah dan bid’ah mereka jadikan sunnah. Bagi orang yang berakal tidak layak untuk bergaul ataupun dudukduduk bersama mereka. Jika itu tetap dilakukan maka akan sakitlah hati bahkan bisa menyebabkan hatinya menjadi mati.

Kiat Menjadikan Hati Tetap Hidup

Ketahuilah, bahwa hati yang hidup (hati yang sehat) hanya akan diperoleh dengan ilmu dan ikhtiar (usaha). Adapun usaha tersebut yang bisa dilakukan untuk menjadikan hati tetap hidup adalah:

1. Dzikrullah dan Tilawatil Qur'an.

Dengan senantiasa dzikrullah (menyebut dan mengingat Allah) bagi seorang hamba manfaatnya sangatlah besar. Sebagaimana Dia berfirman: "Ingatlah, bahwa hanya dengan selalu mengingat Allah, hati menjadi tentram."[QS. Ar-Ra'du:28]. Al-Imam Syamsuddin Ibnul Qoyyim berkata: ”Sesungguhnya dzikir adalah makanan pokok bagi hati dan ruh, apabila hamba Allah gersang

dari siraman dzikir, maka jadilah ia bagaikan tubuh yang terhalang untuk memperoleh makanan pokoknya."Dan Imam Hasan Al-Bashri berkata: "Lunakkanlah hatimu itu dengan berdzikir".

Kendatipun dzikrullah adalah salah satu bentuk ibadah yang termudah dan ringan, akan tetapi pahala dan keutamaan yang didapatkan melebihi amalan-amalan lainnya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: ”Sesungguhnya mengingat-ingat Allah adalah lebih besar (keutamaannya daripada ibadat yang lain)."[Qs. Al-Ankabut:45].

Sebaik-baik dzikir adalah membaca Al-Qur'an, karena Al-Qur'an mengandung berbagai khasiat penyembuh hati dari semua penyakit kegundahan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman; "Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit yang berada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang

beriman."[QS. Yunus:57].

2. Beristighfar

Hakikat istighfar adalah untuk memohon maghfirah (ampunan), dan batasan maghfirah adalah penjagaan dari keburukan yang diakibatkan dari dosa-dosa. Dan barangsiapa yang meminta ampun kepada-Nya selama memenuhi syaratnya pasti Allah Subhanahu

wa Ta'ala memberikan ampunan. Firman-Nya: "Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia meminta ampun kepada Allah niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."[QS. An-Nisa’:110].

Hendaklah seseorang itu memperbanyak istighfar kepada-Nya dimanapun berada, sebab seseorang itu tidak tahu dimana tempat maghfirah Tuhannya turun. sebagaimana rasulullah saw bersabda: "Demi Allah, sesungguhnya aku selalu mohon ampunan kepada Allah sehari semalam lebih dari tuju puluh kali." [HR. Bukhari].

‘Aisyah ı berkata: "Beruntunglah orang yang mendapat dalam buku catatan amal perbuatannya memuat istighfar yang banyak."

Qatadah berkata:"Sesunggunhya Al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepadamu tentang penyakitmu dan obat penangkalnya.

Adapun penyakitmu adalah dosa-dosa, sedangkan obatnya adalah istighfar."

3. Do'a

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Berdo'alah kepada-Ku niscaya Aku perkenankan bagimu. "[QS. Al-mukmin:60].

Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan kepada kita agar berdo'a kepada-Nya dan Dia akan memenuhi permohonan hamba-Nya. berkenaan dengan ini rasulullah saw bersabda: "Tidaklah seorang Muslim pun berdo'a dengan do'a yang di dalamnya tidak berisi dosa dan pemutus tali silaturahmi melainkan Allah memberikan kepadanya salah satu dari tiga

perkara: Allah akan menyegerakan permohonannya itu (diperoleh di dunia) atau Allah akan menyimpannya untuknya di akhirat kelak, atau Dia memalingkan darinya keburukan yang setimpal dengan do'anya itu."[HR. Ahmad, hadits shahih]. Dalam ayat yang sama Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:" Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku (tidak mau berdo'a kepada-Ku) akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan

terhina."[QS. Al-mukmin:60]. Orang-orang yang tidak mau berdo'a kepada-Nya maka mereka yang dikatakan Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah termasuk orang yang sombong, dan mereka mendapatkan murka dari-Nya. sebagaimana rasulullah saw bersabda: "Barang siapa yang tidak mau meminta (memohon

kepada Allah), maka Allah murka terhadap-Nya." [HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah].

4. Bershalawat kepada Nabi saw

Allah Subhanahu wa Ta'ala bershalawat (menyebut dan memuji di hadapan para malaikat) sepuluh kali, bagi orang bershalawat kepada rasul-Nya (sekali). Sebagaimana sabda beliau saw :”Barang siapa yang bershalawat untukku satu kali. Maka Allah akan bershalawat sepuluh kali lipat."[HR. Muslim]. Karena yang

demikian itu, setiap satu kebaikan nilainya akan dilipat gandakan sepuluh kalinya, dan bershalawat untuk Nabi saw termasuk kebaikan yang tinggi.

5. Qiyamullail

Jika seseorang tetap melakukan shalat malam, maka wajahnya akan bercahaya dan dia juga akan merasakan kenikmatan beribadah dalam hatinya, sebagaimana yang dituturkan oleh para Ulama Salaf berikut ini: Abu Sulaiman berkata: “Malam hari bagi orang yang sering beribadat di dalamnya, itu lebih nikmat daripada permainan bagi mereka yang suka hidup bersantai-santai. Seandainya tanpa malam aku tak suka hidup di dunia ini.”

Ibnul Mukandir: ”Bagiku kelezatan dunia ini hanya ada pada tiga perkara, qiyamullail, bersilaturahmi dengan ikhwan dan shalat berjama’ah.”

Maroji’:

Tazkiyatun Nufus oleh Dr. Ahmad Farid

Amraadlul Qulub wa Sifaauha oleh Ibnu Taimiyah

Episode Cinta



Cinta mengingatkan kita untuk hati - hati  terhadap apa dan siapa yang kita cintai.
**waktu mau makan ingat kamu, waktu bercermin ingat kamu, waktu mau belajar  ingat kamu, waktu mau tidur ingat kamu,......**  ( kalo nggak salah dina mariana yang nyanyi, betul nggak Mas Gugah )
Demikianlah kira-kira bunyi sebuah syair lagu (kalau nggak salah) yang  pernah ngetrend. Lagu itu memang bertema cinta. Cinta suci katanya.
Eit... tapi tunggu dulu apa benar cinta suci, apa benar cinta sejati. Atau  sekedar cinta syahwati.
Cinta adalah karunia Allah. Bahkan Allah menciptakan alam semesta ini karena  cintaNya. Karenanya alam dan dunia ini adalah lautan cinta.
Cinta itu suka atau senang. Cinta itu keinginan untuk memberi, demikian kata  orang. Tapi bila mendengar kata cinta, yang muncul di otak adalah pacar.
Inilah kesalahan kebanyakan orang dalam mengartikan cinta. Cinta yang mereka  kenal adalah cinta syahwati. Apa memang sedemikian rendah nilai cinta.
Cinta memang mempunyai kekuatan yang luar biasa. Dan kekuatan cinta mampu  membikin pribadi yang nekat atau pribadi yang taat. Nekat dalam arti berani  melanggar aturan-aturan dari Allah. Sehingga sampai-sampai bilang,"Khan  cuma-pegang-pegangan tangan." Na'udzubillah min dzalik.
Kalau bicara masalah cinta memang tak kan habis-habis. Namun berapapun  banyaknya nuansa cinta, sebenarnya hanya ada dua versi cinta, yaitu cinta  imani (cinta robbani), adalah cinta yang berlandaskan kepada keimanan, dan  cinta syahwati, cinta yang berlandaskan pada hawa nafsu yang ditunggangi  oleh syaithon laknatullah.
Cinta imani inilah sesungguhnya yang merupakan cinta sejati. Tapi pengertian ini telah diputar balik, sehingga cinta syahwati dianggap sebagai cinta suci yang harus diperjuangkan sampai tetes darah penghabisan, dengan bunuh diri  misalnya.
Mahabbah (kecintaan) seorang mu*min adalah harus berlandaskan keimanan. Dan kecintaan tertinggi adalah kecintaan kepada Allah (mahabbatullah).
Kecintaan kepada Allah adalah mutlak dan di atas segala-galanya. Sedangkan  bagi orang kafir sudah jelas cintanya adalah cinta syahwati.
Tanda-tanda Cinta.
Cinta secara umum mempunyai tanda-tanda dan gejala-gejala yang sama.
Pertama  adalah banyak mengingat (pada yang dicintai). Sebagaimana syair lagu di  atas, hatinya selalu teringat dan terkenang kepada yang dicintai. Di mana-mana pun pokoknya ingat deh. Apabila suatu saat secara tiba-tiba disebutkan nama yang kita cintai, maka hati kita tersentak.
Hati kita deg-deg sir,"Ada apa ini." Demikian pula bila kita mendapatkan  surat dari yang kita cintai. Maka bagi seorang mukmin karena kecintaan  kepada Allah adalah yang tertinggi, bila disebut namaNya, gemetarlah hatinya dan jika dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah imannya. (QS Al Anfal ayat 2).
Kedua adalah takjub dan kagum (kepada yang dicintai).
Kalau sudah cinta katanya hidung pesek jadi mancung. Atau bahkan tahi  kambing dirasa coklat, ucap seorang penyanyi.. Karena begitu kagumnya kepada  yang dicintai. Bagi cinta yang dilandasi syahwat, kekaguman nya bersifat  sementara dan tidak membekas dalam hati, karena manusia mempunyai rasa  selalu tidak puas. Maka tepatlah petunjuk Rasulullah SAW, bila mencari  istri, pilihlah karena agamanya sebagai prioritas utama, bukan cantiknya, bukan kayanya, bukan kebangsawanannya. Kekaguman karena iman akan memberikan hal yang berbeda, ia akan membekas dalam hati. Apalagi kekaguman akan kebesaran dan kekuasaan Allah.  "(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau  dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan  bumi (seraya berkata): Ya Rabb kami,tiadalah Engkau menciptakan ini dengan  sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (QS Ali  Imran  ayat 191).
Ketiga dan keempat adalah ridlo (rela) dan pengorbanan.
Seorang mu'min karena cintanya yang sangat kepada Allah, ia akan rela mengorbankan segalanya demi mencapai keridloan Sang Pemberi cinta, Allah SWT. Kalau cinta syahwati, keridloannya pun bersifat untuk memenuhi hawa nafsunya saja. Karena jabatan mau saja menyembah-nyembah atasan. Karena ridlo dengan si dia sampai-sampai mengorbankan kehormatannya. Atau SPP amblas, sehingga orang tua yang kalang kabut. Kecintaan kepada sesuatu dengan tanda-tandanya di atas akan melahirkan rasa takut dan harap serta suatu ketaatan. Ini merupakan hal yang wajar dan  logis. Karena mencintainya, kita takut kehilangan, atau kawatir cinta kita  diterima apa nggak. Dan kita mengharapkan selalu dekat dengan yang kita cintai. Otomatis supaya kekawatiran kita tidak terjadi dan harapan kita  terpenuhi, kita taat kepada yang kita cintai.
Jika dibilang,"Kalau cinta, traktir dong..." kemudian ia mentraktir dengan  uang SPP nya, maka ini adalah salah satu bentuk ketaatan. Tentu saja bentuk  pengorbanannya adalah uang SPP. Demikian pula bila diajak nonton film di  bioskop, padahal yang ngajak itu orang lain, kemudian mau, juga merupakan  ketaatan. Ketaatan yang salah. Ketaatan yang sesat.
Kecintaan yang haq (yang berlandaskan iman) akan melahirkan ketakutan,  pengharapan dan ketaatan hanya kepadaNya. Meskipun memiliki tanda-tanda yang  sama, tetap saja antara cinta imani dan cinta syahwati adalah bertolak  belakang. Karena yang satu haq dan yang lain bathil.
Prioritas dan Peringkat-peringkat cinta.
Dalam cinta pun ada skala prioritas seperti halnya membelanjakan uang. Ada  seseorang yang tidak punya baju sama sekali, kemudian ia tidak membeli  baju  tapi malahan membeli sepeda. Suatu hari ia bersepeda tanpa pakaian. Tentu  saja orang-orang berkata,"Orang itu sudah sinthing. Mbok ya beli baju dulu."
Demikianlah kita harus punya prioritas cinta, supaya tidak dibilang  sinthing. Untuk itu kita harus mengenal apa yang disebut maratibul mahabbah  (peringkat-peringkat cinta). Dengan memahami peringkat-peringkat cinta ini mudah-mudahan kita tidak terjerumus dalam syirik cinta.
1. Tatayyum.
Yaitu cinta yang melahirkan sikap untuk menghamba secara mutlak dan  melakukan pengorbanan sampai tetes darah penghabisan. Ini adalah kecintaan  tertinggi dan hanya kita berikan kepada Allah Rabbul 'alamin. Seorang mukmin  amat sangat cintanya kepada Allah. (QS Al Baqarah ayat 165).
2. 'isyq.
Yaitu cinta yang melahirkan ketundukkan terhadap segala perintah dan  larangannya, membangkitkan sikap hormat yang tinggi, mengikuti dan  membelanya. Kecintaan seperti ini adalah hak Rasulullah. Namun 'isyq  tidak mendorong seseorang menjadi hamba Muhammad. Inilah yang membedakan dengan  tatayyum.
3. syauq (kerinduan).
Yaitu cinta yang membuahkan mawaddah wa rahmah (kasih sayang), menjadi  perekat yang kuat dalam membangun ummat. Ini adalah cinta antara mu*min  dengan mu*min lainnya, antara orang tua dengan anak, antara suami dengan istri, dengan saudara
yang  mukmin.
4. shababah.

Ditujukan kepada sesama muslim yang akan  melahirkan ukhuwah (persaudaraan).
5. 'ithf (simpati).
Ditujukan kepada sesama manusia.
Rasa simpati mendorong seorang mu'min untuk menolong manusia ke jalan yang
benar (dakwah). Bila hilang rasa simpati, seseorang menjadi cuek, tak peduli  dengan kerusakan masyarakat dan lingkungan sekitarnya.
6.” Alaqah. yaitu kecintaan  kepada selain yang di atas, harta benda misalnya. Islam membenarkan cinta  ini dalam bentuk intifa' (memanfaatkan, mendayagunakan). Cinta pada harta  benda yang berlebihan membahayakan manusia sendiri. Para salafusshalih  berdoa kepada Allah agar jangan sampai dunia menempati hati mereka, cukup di  tangan saja. Artinya jangan sampai dunia yang menguasai mereka tapi mereka  yang menguasai dunia.
Jadi kecintaan tertinggi seorang mukmin adalah untuk Allah, kemudian  Rasulullah dan jihad di jalan Allah. Baru setelah itu kepada orang tua,  saudara yang mukmin, suami atau istri, anak dan seterusnya.
"Katakanlah: Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri,  kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu  kawatiri kerugiannya, rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah  lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya dan (dari) berjihad di  jalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya. Dan Allah  tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik."(QS At Taubah ayat 24).
Memang manusia secara naluriah mempunyai rasa cinta kepada lawan jenis, anak-anak, harta benda, seperti Firman Allah dalam QS Ali Imran ayat 14.
"Dijadikan indah dalam pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang  diingini yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas,  perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang."
Namun hal itu bukanlah legitimasi untuk menjadikan cinta syahwati sebagai  yang dipuja sedemikian rupa. Karena Allah telah menentukan batasan-batasan.
Kecintaan tertinggi adalah untuk Allah, maka kecintaan kita kepada sesuatu  adalah karena kecintaan kita kepada Allah. Maksudnya sesuai dengan  aturan-aturan dari Allah. Kita boleh mencintai lawan jenis, tapi caranya adalah yang sesuai dengan aturan Allah, yaitu setelah menikah, bukan  pacaran. Model pacaran itu bukan dari Allah, tapi dari  syaithon laknatullah.
Jika kita lihat dalam realitas, banyak orang masih menempatkan kecintaan  tidak pada tempatnya. Ada yang menempatkan cinta tertinggi untuk sesuatu  selain Allah. Entah harta atau yang lain-lain. Mereka lebih mencintai dunia daripada akherat. Inilah sikap orang yang buta cinta. karena buta cinta  dunia menjadi tuan, kekasih menjadi pujaan. Menjadi ilah-ilah yang lain.
Kelaziman Cinta.
Ibnu Taimiyah berkata,"Mencintai apa yang dicintai kekasih adalah  kesempurnaan dari cinta pada kekasih."
Apa yang dikatakan Ibnu Taimiyah inilah yang disebut kelaziman cinta,  lumrahnya sesorang kepada yang dicintainya. Lumrahnya seseorang kepada yang  dicintai adalah mencintai siapa-siapa dan apa apa yang dicintai kekasih. Dan  membenci siapa-siapa dan apa-apa yang dibenci kekasih.
Jika Allah mencintai nabi dan RasulNya, kita pun harus mencintai mereka.  Allah mencintai orang- orang yang beriman, amal sholeh, akhlaqul karimah,  maka demikian pula seharusnya dengan kita.
Allah mencintai kebersihan. Bagaimana kita bisa disebut cinta kepada Allah  kalau kita tidak menyukai dan menjaga kebersihan. Allah membenci orang-orang  kafir, munafiq maka kita pun demikian. Allah membenci perbuatan tercela,  seperti zina, memperturutkan hawa nafsu, berjudi, mabuk, korupsi maka kita  wajib menjauh perbuatan-perbuatan semacam ini.
 Aljabar Cinta
.
Aljabar atau perhitungan cinta tidak sama dengan aljabar dalam pelajaran  matematika kita. Kalau dalam matematika yang kita pelajari 100 dibagi 2 sama  dengan 50.
Dalam aljabar cinta tidak begitu. Bila kita mencintai Allah, Rasul dan jihad  bukan berarti untuk Allah 70%, untuk Rasulullah 20% dan seterusnya. Sama  sekali bukan.
Kecintaan seorang mukmin kepada Allah adalah mutlak. Kecintaan kepada yang  lain tidak mengurangi kecintaan kita kepada Allah. Karena pada dasarnya  kecintaan kepada yang lain bagi seorang mu*min adalah karena kecintaannya  kepada Allah.
Mulai sekarang kita harus tahu mana cinta imani dan mana cinya syahwati.
Maka jangan sampai salah menempatkan cinta. Sehingga syair lagu di atas seharusnya "waktu mau makan ingat Allah, waktu bercermin ingat Allah, waktu  mau belajar ingat Allah, waktu mau tidur ingat Allah..," dengan doa-doa yang  diajarkan Rasulullah SAW.